Ketakutan adalah pengalaman universal manusia - hadir dalam bentuk kecemasan, keraguan, bahkan keputusasaan. Jika tidak ditangani, ia dapat melumpuhkan langkah dan mengaburkan pandangan rohani kita. Namun Tuhan tidak meninggalkan kita dalam belenggu itu. Ia memberikan Roh-Nya untuk tinggal dan bekerja di dalam kita, memampukan kita menjalani panggilan-Nya dengan keberanian.
Dalam 2 Timotius 1:6, "penumpangan tangan" (epitheseōs tōn cheirōn) adalah tindakan simbolis yang meneguhkan karunia Roh Kudus dalam diri seseorang - bukan sekadar transfer kuasa secara mekanis. Tindakan ini mencakup pengesahan pelayanan, penyaluran berkat rohani, dukungan komunitas iman, dan doa pemberdayaan.
Paulus menasihati Timotius untuk mengobarkan karunia itu. Kata Yunani anazōpyrein berarti menyalakan kembali api yang hampir padam - mengingatkan kita bahwa karunia rohani perlu dipelihara melalui doa, firman, persekutuan, dan kesetiaan dalam pelayanan.
Allah tidak memberikan roh ketakutan (deilias - sikap pengecut yang melumpuhkan iman), melainkan tiga hal:
Tuhan telah menempatkan karunia-Nya di dalam diri kita. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita adalah Roh yang penuh kuasa, kasih, dan ketertiban. Seperti Timotius, kita dipanggil untuk mengobarkan kembali karunia itu melalui kehidupan yang berpusat pada Tuhan. Jangan biarkan ketakutan memadamkan api itu - bangkitlah dan hiduplah dalam keberanian iman.
"Roh Tuhan bukan roh ketakutan, melainkan sumber kekuatan, kasih, dan ketertiban yang memampukan kita hidup dalam keberanian iman."
Ketakutan memenjarakan, iman membebaskan; ketakutan melumpuhkan, iman memberdayakan; ketakutan melemahkan hati, iman menguatkan.
Jangan mengadakan pertunjukan terlebih dahulu, lalu menyetem alat musikmu setelahnya. Mulailah hari dengan Firman Allah dan doa, dan selaraskan dirimu dengan-Nya terlebih dahulu.
Roh Allah tidak diberikan untuk membuat kita nyaman, tetapi untuk membuat kita berani.
Seorang yang akrab dengan Allah tidak akan pernah merasa gentar di hadapan manusia.
Karunia Tuhan bukan untuk dibiarkan redup, tetapi harus terus dikobarkan agar menghasilkan buah yang nyata.
Ketakutan membutakan mata rohani kita, tetapi Roh Tuhan memulihkan pandangan kita untuk melihat keajaiban-Nya.
Setiap orang pasti mendambakan berkat dalam hidupnya. Berkat sering kali kita pahami sebagai kesehatan, kelimpahan materi, keberhasilan, dan kebahagiaan. Namun pernahkah kita bertanya: untuk apa sebenarnya berkat itu diberikan? Apakah semata-mata untuk kenikmatan dan kepuasan diri sendiri, ataukah ada tujuan yang jauh lebih mulia di baliknya?
Berbicara tentang diberkati untuk memberkati, inilah pernyataan pertama yang Tuhan tujukan kepada Abram dalam panggilannya. Hal ini membuktikan bahwa Allah kita adalah Allah yang misioner - segala sesuatu yang Ia adakan bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Lebih dari itu, tujuan utamanya adalah agar semua suku bangsa dapat memahami, mengenal, dan menyembah Allah yang hidup.
Mazmur di atas merupakan permohonan yang sangat tulus akan berkat. Namun permohonan itu tidak berhenti hanya pada permintaan berkat semata - melainkan melangkah lebih jauh, yaitu memohon agar berkat tersebut berdampak dan menjadi jalan sehingga nama Tuhan dikenal oleh segala bangsa. Inilah kerinduan sejati seorang yang sungguh-sungguh mengenal Allah.
Maka ini menjadi pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: Apakah permohonan kita selama ini hanya berhenti pada berkat untuk diri sendiri, ataukah berkat itu kita jadikan alasan dan sarana untuk memperkenalkan nama Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita?
Allah yang misioner selalu mengaitkan segala sesuatu dengan pengenalan akan nama-Nya. Berkat bukan akhir dari tujuan-Nya - berkat adalah jalan menuju tujuan yang lebih besar, yaitu agar nama-Nya dimuliakan di seluruh bumi. Allah menggunakan berkat untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang besar, penuh kasih, dan layak untuk dikenal, dimuliakan, serta disembah oleh seluruh bangsa di muka bumi.
Kiranya doa sang pemazmur menjadi doa kita bersama, sehingga nama Tuhan semakin dikenal dan dimuliakan melalui hidup kita yang diberkati. Amin.
Ayat 16 merupakan ungkapan Paulus di tengah tekanan berat dan ditinggalkan oleh para teman serta sahabatnya. Dalam kesendirian itu, Paulus tidak memilih untuk kecewa atau putus asa, melainkan ia berdoa agar Tuhan mengampuni dan memberkati mereka.
Kisah yang serupa pernah dialami oleh Yesus sendiri, ketika Ia dihakimi dan disiksa hingga tergantung di kayu salib. Para murid meninggalkan-Nya, bahkan ada yang mengkhianati dan menyangkali-Nya. Namun dari bibir-Nya mengalir kata-kata pengampunan yang luar biasa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).
Keyakinan Paulus bahwa Tuhan adalah sahabat sekaligus pembela terwujud nyata dalam ayat 17: "Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku."
Setiap kita pernah mengalami, atau mungkin sedang mengalaminya saat ini. Ingatlah, jangan biarkan diri larut dalam kekecewaan atau kemarahan. Itu adalah bagian dari perjalanan hidup kita di dunia ini. Dunia membangun pertemanan dan persahabatan atas dasar kepentingan dan kebutuhan. Namun Tuhan Yesus adalah sahabat sejati - selalu hadir di setiap waktu, memberikan pembelaan, dan tidak pernah meninggalkan. Di tengah kesendirianmu, berdoalah dan mohonkan pengampunan, serta percayalah bahwa Tuhan ada bersamamu - menjadi pembela dan segala-galanya bagimu.
Setiap manusia di dunia ini pasti pernah merasakan pahitnya kekecewaan, sehingga dalam momen-momen seperti itu, gelombang kesedihan dan belas kasihan terhadap diri sendiri pun tak terelakkan untuk menghantam dalam hati yang rapuh.
Begitupun yang terjadi pada dua orang murid Yesus dalam menanggapi kejadian yang membuat Yesus mati dan dikuburkan. Maka terungkaplah kalimat seperti ayat diatas. Dan dalam perikop dari Lukas 24:13-35 menceritakan tentang dampak dari kekecewaan; yaitu:
Untuk kecewa atau tidak kecewa adalah pilihan dalam hidup. Namun betapa indahnya jika mengambil sikap untuk tidak kecewa. Karena kekecewaan hanya mendatangkan nilai negatif dalam hidup kita, bahkan berdampak untuk orang sekitar. Untuk mengobati kekecewaan adalah, membuka telinga dan hati serta percaya kepada perkataan Tuhan (ayat 27-31). Dan jangan kita hanya mendengar akan perkataan Tuhan dari orang lain, tetapi nikmati dan rasakan sendiri akan kuasa perkataan-Nya. Maka sukacita dan hati yang bergelora untuk menjalankan perkataan Tuhan serta kuasanya akan terjadi di dalam kita. Amin dan Tuhan memberkati.
Dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani, cemerlangnya demonstrasi kuasa Allah sering menjadi sorotan utama, namun terkadang terjadi kesalahpahaman di mana setiap jemaat hadir berharap untuk mengalami pengalaman serupa, terpesona oleh sosok Pengkhotbahnya.
Namun Alkitab dengan jelas memberikan wawasan bagi kita, bahwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati, bukan hanya mengalahkan kuasa dosa dan kegelapan. Tetapi Yesus juga memberikan kuasa kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kalimat yang sederhana, tanpa harus ditafsirkan begitu rumit. Dikatakan “tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang percaya”, dalam kalimat itu jelas bahwa kuasa itu diberikan kepada semua orang yang percaya. Pemberian kuasa tidak menyulitkan dengan berbagai persyaratan yang rumit, hanya dengan percaya saja. Kata percaya berarti mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa dan Maha kuasa. Kebangkitan-Nya salah satu bukti bahwa Dia Manusia dan Tuhan sewaktu didunia. Dan merupakan sesuatu yang wajar, jika Dia memberikan kuasa. Pernyataan Yesus tentang kuasa, merupakan suatu kekuatan kepada para murid-Nya, yang mungkin mereka beberapa kali melakukannya dan selalu menyerahkan kepada Yesus. Yesus menegaskan bahwa sudah diberi kuasa. Rincian kuasa dapat kita lihat dalam ayat diatas.
Apa lagi yang menjadi keraguan kita saat ini? Dia sungguh menjadikan kita sebagai pengantara dari kuasa-Nya. Jika kemarin dinyatakan bahwa kita adalah pengantara dari karya Yesus untuk pemberitaan keselamatan, dan hari ini di tegaskan bahwa ada kuasa dalam berita itu dan orang yang memberitakannya memiliki kuasa. Kuasa diberikan dengan cuma-cuma, dan mari kita karyakan ditengah dunia yang membutuhkan. Amin dan Tuhan memberkati.